Minggu, 23 Februari 2014

Keistimewaan dan Keindahan Pulau Komodo

Pulau Komodo terletak di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau itu menjadi tempat hidup hewan komodo. Pemandangan alam di pulau ini sangat indah. Tak heran bila pulau ini sering dikunjungi wisatawan, Para wisatawan, baik lokal dan mancanegara, sering berkunjung ke Pulau Komodo. Terlebih bagi wisatawan yang memang gemar berpetualang di tempat terbuka. Dikabarkan, ada sekitar 2.800wisatawan yang berkunjung tiap tahunnya. Kebanyakan dari mereka berasal dari luar negeri. Antara lain dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Australia, dan Rusia. Keindahan alam Pulau Komodo tercermin dari kondisi hutan yang asri. Termasuk juga hutan bakaunya. Hutan bakau menjadi salah satu keistimewaan Pulau Komodo. Mengapa demikian? Sebab hutan itu tetap terlihat hijau meski musim kemarau tiba.
Keindahan panorama alam Pulau Komodo, juga terlihat di daerah pesisir pantai dan lautnya. Kondisi air laut di perairan Pulau Komodo, jernih. Keindahan biota di laut juga tak kalah memukaunya dengan panorama darat. Nah, agar kelestarian pulau itu tetap terjaga, Pemerintah Indonesia menjadikannya taman nasional. Peresmiannya dilakukan pada tahun 1980. Nama taman nasional itu adalah Taman Nasional Komodo(TNK). Untuk diketahui, selain Pulau Komodo, wilayah TNK juga meliputi Pulau Rinca dan Pulau Padar.
Luas wilayah TNK sekitar 1817 kilometer persegi. Taman nasional ini berfungsi untuk melindungi hewan komodo beserta lingkungan hidupnya. Pada tahun 1986, TNK diresmikan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.TNK terpilih menjadi salah satu calon “Tujuh Keajaiban Dunia Bertemakan Alam”. Keputusan ini dilakukan oleh yayasan New7Wonders Foundation, pada bulan Agustus 2008. Pihak New7WondersFoundation telah bekerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Keduanya sepakat untuk mengenalkan TNK kepada masyarakat umum. Terutama dalam penyampaian TNK sebagai calon “Tujuh Keajaiban Dunia Bertemakan Alam”. Menurut rencana, penyisihan final kegiatan itu berlangsung pada awal tahun 2009.
Jika Anda ingin mengisi waktu liburanmu kunjungilah ke Pulau Komodo, dan jadikanlah liburanmu yang tak akan terlupakan seumur hidupmu. . Itulah surga kami masyarakat Flores, dan disanalah tempat Beta Lahir dan dibesarkan.

sumber : //http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/02/26/keindahan-dan-keistimewaan-pulau-komodo-538279.html

Rabu, 19 Februari 2014

Keragaman Budaya NTB

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang kaya akan budaya dan daerah pariwisata yang tersebar dari sabang hingga merauke. Keragaman budaya yang dimiliki menjadikan Indonesia salah satu pusat tujuan wisata masyarakat dunia. Hal tersebut didukung oleh suasana dan kondisi alam serta masyarakat penghuninya yang memilki budaya dengan karakteristik yang unik dan beraneka ragam antara pulau yang satu dengan yang lainnya.
Masing-masing pulau yang terdiri dari beberapa wilayah tentu memiliki kebudayaan tersendiri sesuai dengan lingkungan dan kondisi alam yang mereka tinggali. Keragaman budaya yang hidup dalam masyarakat diharapkan mampu menjadi katalisator dalam percepatan pembangunan daerah sesuai dengan kadar pembangunan yang bisa dimanfaatkan melalui pengelolaannya, misalnya dengan menjadikannya sebagai daerah tujuan pariwisata yang berbobot melalui pembangunan fasilitas yang menunjang. Pembangunan tersebut diharapkan bisa terealisasi dengan baik terlebih dengan terbukanya angin segar bagi setiap daerah untuk membangun wilayahnya sendiri melalui sistem pemerintahan yang bersifat desentaralisasi sesuai dengan kondisi dan kekayaan daerah pariwisata yang dimiliki.
Kekayaan akan daerah pariwisata yang dimiliki Indonesia bisa kita lihat dari banyaknya tempat-tempat pariwisata yang tersebar di seluruh kawasan nusantara. Kawasan pariwisata yang dimiliki itu tidak hanya terbatas pada kawasan darat saja, akan tetapi terdapat pula di laut. Bahkan di antara sekian banyaknya kawasan pariwisata yang dimiliki masih banyak yang belum terjamah karena kurangnya akses berupa jalan yang layak dan faktor keamanan yang kurang berfihak sehingga daerah atau kawasan tersebut tidak bisa difungsikan secara optimal dan menjadi daerah kunjungan yang digemari oleh para wisatawan. Oleh kerena itu, sampai saat ini pemerintah terus melakukan  pengembangan pada setiap kawasan yang ada .
  Di samping itu, garis khatulistiwa yang melewati Indonesia membuatnya menjadi negara yang memiliki sumber daya alam hayati dan non hayati yang berlimpah ruah. Kekayaan yang dimilki itu tentunya menjadi salah satu manufer untuk menjamin kehidupan yang layak bagi masyarakatnya yang memiliki hak utuh atas pemanfatan segala potensi yang ada serta menjadi objek utama dalam perumusan kebijakan dari setiap langkah yang akan ditempuh oleh pemerintah sehingga terjadi pemerataan  dalam pembangunan.
 Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu bagian dari Indonesia memiliki potensi sumber daya  alam dengan fanorama yang cukup menjanjikan. Daerah pegunungan dan pesisir pantai yang dimiliki cukup luas dan sangat menarik karena memiliki perbedaan dengan tempat-tempat wisata lainnya, misalnya pantai An yang biasa dikenal dengan pantai Kuta oleh masyarakat kebanyakan memiliki kelebihan yang membedakannya dari pantai Kuta yang ada di pulau Bali, yakni  terdapat pasir putih yang dinyatakan hidup oleh para peneliti yang berasal dari Australia. Semua itu bisa dibuktikan dengan melihat langsung pasir yang ada di sana pada saat matahari bersinar terang maka pasir tersebut akan tanpak berjalan dan tidak terdiam. Di luar pantai An yang dimiliki oleh NTB masih banyak pula potensi alam lainnya.
 Selain keindahan alam, Nusa Tenggara Barat juga kaya akan kultur atau budaya masyarakat yang mendiaminya yang masih begitu kental dengan adat istiadat yang dianut sejak zaman nenek moyang terdahulu. Adat-istiadat yang berkembang pada masyarakat NTB pada umumnya memilki fungsi yang cukup penting dalam pengamalan norma agama dan etika di samping nilai estetika atau keindahan yang dimilikinya. Sebagai salah satu contoh yakni adat istiadat nyongkolan atau bejango yang dilakukan dengan mengarak pengantin keliling kampung dengan diiringi tabuhan gamelan yang disertai dengan penggunaan pakaian adat yang bertujuan untuk mengumumkan kepada khalayak atas akad nikah yang telah terjadi sehingga tidak timbul fitnah di kemudian hari meskipun terkadang dilengkapi dengan prilaku senonoh sebagian remaja yang memiliki kebiasaan buruk namun bisa diredam dengan wajar.
 Adat-istiadat yang melekat pada masyarakat NTB diawali oleh Sejarah kehidupan nenek moyangnya yang pernah dijajah dan dikuasai oleh orang-orang hindu. Kekalahan kerajaan hindu membuat islam kembali mendominasi di lingkungan masyarakat NTB. Intraksi yang terjadi antar masyarakat membuat kebiasaan atau adat-istiadat yang ada saling mengisi dan berbaur dengan erat antara yang satu dengan yang lainnya hinga tumbuh dan berkembang sampai sekarang, misalnya saja perpaduan antara budaya hindu dan budaya islam seperti selametan laut yang dilakukan dengan menggelar zikir bersama yang disertai dengan perlengkapan sesajian yang akan disantap bersama dan sejenisnya.
Di luar budaya hindu dan islam, budaya masyarakat NTB juga diperkaya dengan beragam budaya masyarakat yang beragama kristen dan buda serta agama konghucu yang dianut oleh sebagian masyarakat cina yang sudah tinggal di NTB sejak zaman penjajahan terdahulu. Kedamaian hidup dalam kerberagaman budaya yang ada tentu menjadi idaman setiap anggota masyarakat NTB yang ada hingga saat ini.
Seiring dengan keberagaman yang ada, masyarakat pastinya tidak akan mampu mengelak dari dampak positif dan negatif yang bisa ditimbulkan. Dampak positif dan negatif tersebut itu secara keseluruhan pasti akan menyentuh berbagai ranah kehidupan masyarakat, baik yang berhubungan dengan perbedaan agama, suku, ras, golongan maupun budaya. Kondisi keberagaman beserta dampak yang ditimbulkannya tersebut secara logika atau secara wajar mampu merangsang benak kita untuk berfikir terhadap gejolak sosial yang akan terjadi  serta solusi yang pantas untuk mencegah dan mengendalikannya manakala hal itu terjadi secara konkrit dalam kehidupan masyarakat.
Pengelolaan tata cara bersosialisasi yang baik  dengan budi pekerti yang luhur terhadap sesama makhluk tuhan tentu menjadi solusi utama untuk memecahkan permasalahan yang ada. Gejolak-gejolak yang timbul sedikit tidak bisa diredam secara perlahan apabila terjalin komunikasi yang intens antar anggota masyarakat. Hal ini tentu saja telah terlaksana dan disosialisasikan oleh pemerintah NTB melalui kerja sama dengan berbagai pihak  mengingat keberadaan masyarakatnya yang begitu majmuk.
 Tata cara bersosialisasi yang dimaksud di antaranya melalui penerapan ajaran agama berdasarkan keyakinan masing-masing. Hal itu dirasakan patut  karena masing-masing agama pastinya memiliki ajaran-ajaran yang menuntut penganutnya untuk selalu berbuat baik terhadap sesama dan menjaga kelestarian lingkungannya. Namun, arus globalisasi yang terjadi saat ini sering menjadi bumerang di dalam pelaksanaanya terutama bagi masyarakat awam yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memfilter perubahan yang terjadi. Namun, berbeda lagi halnya dengan masyarakat awam yang jauh dari tekhnologi dan memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai budaya yang ia temukan tentu akan sulit terpengaruh dengan kebisaan negatif yang dibawa dari budaya luar meskipun terkadang terjebak dalam beberapa perubahan yang sulit dihindari. Akan tetapi, premasalahan tersebut saat ini sudah bisa teratasi secara perlahan, terbukti dengan kondisi sosial masyarakat kita yang secara umum masih kental dengan sikap mental  religiusnya apalagi di kota-kota yang menjadi pusat pembelajaran agama seperti kota santri pancor .
 Pemanfaatan secara optimal keberagaman yang ada dengan berlandaskan pada perdamaian akan menjadi kunci utama kebahagian hidup masyarakat secara menyeluruh tanpa pandang bulu. Keberagaman yang ada tidak akan menjadi sebuah masalah besar namun justru sebaliknya akan menjadi kekayaan murni yang mendatangkan keuntungan bagi masyarakatnya. Dengan begitu, kehidupan masyarakat akan menjadi sejahtera baik lahir maupun batin.
Sampai saat ini, sebagian masyarakat memandang bahwa keberagaman yang ada merupakan suatu bentuk keadaan alami yang muncul akibat faktor alam yang menuntut manusia untuk mengalami dan melakukan perubahan sehingga muncul berbagai bentuk ras, suku, bahasa, adat-istiadat serta kebiasaan masyarakat yang berbeda. Kekisruhan atau gelombang kecil yang ditimbulkan dari sebentuk perbedaan yang ada pasti akan muncul, akan tetapi dapat diatasi dengan kebiasaan musyawarah untuk mencari setiap solusi dengan melibatkan sesepuh masyarakat dan tokoh agama dari sekelompok masyarakat yang terlibat. Fakta riel yang bisa di lihat di daerah kita tercinta ini misalkan tawuran yang terjadi antara sekelompok masyarakat yang memiliki pemahaman berbeda namun bisa teratasi oleh usaha pemerintah daerah yang memfasilitasi mereka untuk bertemu dalam satu ruangan dan mencari solusi bersama atas permasalahan yang terjadi.
 Keberagaman atau perbedaan yang ada tidak patut dijadikan bumerang bagi masyarakat untuk tetap beradat tindih dan menjaga tata krama terhadap sesama dalam menjalani kehidupan sehari-hari, misalnya masyarakat Narmada mimiliki masyarakat yang menganut kepercayaan atau agama yang berbeda, yakni agama hindu dan islam, namun keduanya mampu hidup berdampingan dan saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya.
  Dalam perkembangannya, NTB mengalami perubahan secara perlahan melalui pemanfaatan sektor-sektor riel dari potensi yang dimiliki. pelaksanaan pembangunan kini mulai merangkak naik dengan didorong oleh kearifan pemimpin yang amanah dan berakhlakul karimah sehingga mampu meningkatkan giroh atau semangat masyarakat untuk terus bersatu membangun NTB agar menjadi provinsi yang ke depan bisa diandalkan sesuai dengan cita-cita dan tujuan pembangunan bangsa dan negara terbukti dengan turunnya angka kemiskinan dan pengangguran di NTB serta banyak penghargaan yang diterima gubernur NTB atas prestasi di berbagai bidang oleh presiden Republik Indonesia. Sebagai masyarakat NTB kita patut berbangga atas pencapaian tersebut.
Saat ini, masyarakat NTB telah memiliki keyakinan, yakni pembangunan hanya bisa terlaksana apabila pemimpin mampu menjadi tauladan bagi masyarakatnya dengan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Kekayaan alam yang dimiliki hanya bisa bermanfaat bagi masyarakatnya ketika itu dikelola dan dikembangkan secara maksimal oleh para petinggi yang mempergunakan tampuk kekuasaan yang diamanahkan kepadanya untuk mengatur dan mengatasi setiap permasalahan daerah yang sedang dihadapi. Sikap tersebut tentu akan mendapat dukungan maksimal dari masyarakat.
Bercermin dari struktur kepemimpinan yang ada, sudah menjadi kewajiban masyarakat untuk menilik dan menilisik setiap putusan yang dijatuhkan  oleh pemimpin agar semua yang dihasilkan dari keputusan yang telah dimusyawarahkan bersama tepat guna dan tepat sasaran. Tidak satu pun masyarakat menginginkan kehidupan yang tidak layak akibat kesalahan kebijakan yang dilakukan oleh pemimpin mereka.
Berdasarkan fakta yang ada, perkembangan pengetahuan dan kecanggihan teknologi memberikan imbas yang besar terhadap daya nalar atau kemampuan analisis logika yang dimiliki oleh masyarakat NTB. Berdasarkan informasi yang dilihat dari pemanfaatan media yang ada, masyarakat mulai tersadar akan makna kehidupan dengan mempertahankan secara erat semua kebudayaan yang memiliki andil positif dalam membantu petumbuhan dan perkembangan kultur masyarakat dengan memfilter semua kebudayaan luar yang bersifat negatif. Salah satu hal yang patut disoroti saat ini adalah kemampuan  masyarakat kita untuk saling merangkul tanpa menimbulkan riak-riak kecil yang mengandung unsur negatif dengan memandang keberagaman yang ada sebagai suatu bentuk kekayaan yang patut untuk disyukuri dan dimanfaatkan secara optimal.
Keadaan yang mulai membaik itu tentu didukung dengan maksimal oleh pemerintah. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan untuk merangsang dan membangkitkan kembali minat masyarakat untuk lebih giat memanfaatkan potensi yang ada agar bisa memperbaiki kondisi kehidupan ke arah yang lebih baik dengan memperhatikan semua ranah kehidupan. Keseriusan pemerintah daerah dalam usaha pemberantasan buta aksara melalui program absano (angka buta aksara nol) menjadi salah satu contoh keseriusannya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.
Sebagai wujud dari kebesaran hati para pemimpin yang memandang pentingnya realisasi ajaran agama yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, pemerintah telah membuat sebuah putusan yang dirasakan penting untuk menunjukkan identitas NTB sebagai salah satu daerah yang memilki kultur islami yang begitu kental yakni melalui pembangunan islamic center. Pembangunan tersebut terwujud sebagai salah satu simbol masyarakat NTB yang religius.
 Dukungan pemerintah terhadap pembangunan dengan mengedepankan nilai-nilai agama dilakukan oleh pemerintah secara merata dan tidak terbatas pada agama yang mendominasi saja. Dukungan itu diwujudkan dengan memberikan forsi yang jelas dalam mencari penerus agama yang dapat dipercaya, contohnya melalui penyeleksian penyuluh agama kristen, hindu dan budha melalui tes cpns yang diselenggarakan dengan seksama di NTB.
Kenyataan yang bisa kita lihat dan rasakan bersama di daerah kita tercinta ini yaitu kehidupan beragama yang harmonis dengan sikap toleransi yang begitu tinggi dilengkapi dengan adat-istiadat yang berpihak pada pembangunan demi kemaslahatan bersama tanpa menginginkan budaya atau agama tertentu sebagai salah satu pemicu yang mendorong terjadinya perpecahan.
Sebagai masyarakat NTB, kita patut berbangga atas apa yang kita miliki saat ini. Gunung yang menjulang tinggi dengan pemandangan alamnya yang begitu indah, laut yang luas dengan pasir dan hasil kekayaannya yang begitu banyak serta tanah yang begitu subur dengan kandungan emas yang dimiliki harus kita kelola dan kita jaga kelestariannya. Ketindihan sikap yang disertai dengan ketaatan terhadap ajaran agama harus tetap digalakkan pula. Kearifan sikap dan usaha yang tulus disertai do’a kepada yang maha pencipta tentu akan membuat kita lebih mengerti dan mencintai tanah kelahiran ini serta mampu mengatasi setiap cobaan yang menimpa meskipun hidup dalam kondisi masyarakat yang majmuk. Indahnya keberagaman dalam nuansa masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada tuhan akan menciptakan kebahagiaan yang hakiki seiring dengan perkembangan zaman. Dirgahayu Nusa Tenggara Barat ke-52 semoga kondisi yang kita rasakan saat ini ke depannya bisa lebih baik lagi sehingga NTB menjadi provinsi yang maju dan diperhitungkan dalam segala bidang di Republik Indonesia seiring dengan bertambahnya usia.

Budaya Irian Jaya

Budaya Irian Jaya 

Budaya Irian Jaya (Papua) 

SOSIAL BUDAYA, SUKU DAN ADAT ISTIADAT Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya  terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadatnya maka sacara garis besar penduduk Papua dapat di bedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu: Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan. Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, Danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap    ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana. Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilinea.

BAHASA Di Papua terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Keaneka ragaman bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi  antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh karena itu bahasa Indonesialah yang digunakan secara umum oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan sampai dipelosok-pelosok pedalaman. 

Festival Danau Sentani Festival Danau Sentani adalah festival pariwisata tahunan yang diadakan di sekitar Danau Sentani. Festival ini diselenggarakan sejak 2007 dan telah menjadi festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama. FDS ini banyak diikuti oleh turis Belanda maupun turis lokal. Festival Danau Sentani diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahunnya selama lima hari berturut. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua. Karnaval Festival Danau Sentani diikuti seluruh paguyuban di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Dari masing-masing paguyuban baik dari luar Papua maupun di Papua sendiri yang turut serta dalam pagelaran tersebut menampilkan budaya tradisional, tari-tarian tradisional yang diiringi lagu daerah. 

Festival ini adalah bukti pemeliharaan persatuan dan kesatuan diantara sesama suku, ras, agama. Nasionalime yang sangat kental terjalin diantara sesama, mengingat di Papua terdiri dari ratusan suku-suku kecil yang terkadang gampang bentrok. Tiga agenda pokok FDS, selain karnaval nusantara diantaranya adalah pagelaran budaya, pameran barang seni papua, dan tour wisata. 

Rabu, 12 Februari 2014

Tarian Daerah Jayapura

Tari Manaweang
Tari manaweang berasal dari Kabupaten Yapen Barat, yang menceritakan kisah seorang pemuda yang gagah dan mempunyai ilmu gaib tinggi, ilmu pemuda ini sering di sebut suanggi. Pemuda Suanggi ini suka membuat warga takut dan tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari seperti, nelayan dan bertani.
Menurut warga Yapen, setiap kali manaweang atau suanggi muncul, maka selalu ada korban jiwa. Perbuatan manaweang ini membuat masyarakat resah. Akhirnya kepala suku dan masyarakat sepakat untuk membunuh manaweang. Dan upaya kepala suku serta masyarakat pun berhasil membunuh pemuda manaweang.
Setelah manaweang dibunuh, masyarakat bersuka cita, karena sudah tidak ada manaweang atau suanggi lagi, yang mengganggu mereka

Tarian manaweang ini, ditarikan oleh empat belas orang, dengan mengunakan tujuh gerakan dasar tari.
Tejalu Meto’e
Kampung Te Tape atau yang lebih di kenal dengan Skow, terletak Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Di Kampung Skow Berdiam, Keret Rollo, Ramela, Patipeme dan Membilong.
Salah satu ceritra yang menarik dari keempat keret tersebut adalah Suku Membilong, menurut sejarah, mereka berasal dari Wutung, Vanimo, Papua New Guinea.
Kisah perjalanan Suku Membilong dari Wutung, sampai di Skow diceritakan ulang dalam bentuk tarian Tejalu Met’o.
Dengan Tarian Adat Tejalu Met’o, Suku Membilong mencari dana, untuk pembangunan gereja. Sebelum di lakukan tarian adapt, kaum ibu dan anak-anak menghiasi tubuh mereka dengan menggunakan daun bungga yang berwarna kuning, dan mayang pinang.
Daun berwarna kuning, yang digunakan di tubuh menandakan mama-mama yang cantik, manis, yang sudah melahirkan anak-anak peranakan, dari Suku Membilong.
Sedangkan mayang pinang atau weja merupakan simbol kehidupan, atau melambangkan kebiasaan masyarakan menankap udang, mecari bia dan melaut.
Dalam tarian tersebut, setiap anak-anak peranakan, wajib menggunakan daun kuning, sebagai simbol, bahwa anak tersebut adalah anak peranakan yang berasal dari suku Membilong.
Selain itu, mereka menggunakan kain yang bermotif Papua New Guinea sebagai tanda bahwa mereka berasal dari kampung mereka di Papua New Guinea.
Dalam tarian Tejalu Met’o daun kelapa yang dipikul, merupakan simbol layar perahu, dan pelepah kelapa sebagai dayung dayungnya. Simbol tersebut merupakan peralatan yang dibawa suku Membilong saat bermigrasi ke kampung Skow Yambe.Mereka juga menggunakan la atau noken dari daun kelapa untuk menaruh ikan, dan taa sebagai kalawai untuk menangkap ikan.
Lagu yang di nyanyikan menceritkan, kehidupan anak dari suku Membilong, yang di tinggalkan oleh orang tua, karena meninggal, dan mereka harus mencari makan sendiri.

Kebudayaan di Sulawesi Utara


Kebudayaan di Sulawesi Utara

Kebudayaan di Sulawesi Utara taritarian di Sulawesi Utara Kebudayaan di Sulawesi Utara
Selain kaya akan sumber daya alam Sulawesi Utara juga kaya akan seni dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang. Berbagai seni dan budaya dari berbagai suku yang ada di Provinsi Sulawesi Utara justru menjadikan daerah nyiur melambai semakin indah dan mempesona. Berbagai pentas seni dan budaya maupun tradisi dari nenek moyang memberikan warna tersendiri bagi provinsi yang terkenal akan kecantikan dan ketampanan nyong dan nona Manado.
Secara garis besar penduduk di Sulawesi Utara terdiri atas 3 suku besar yakni suku minahasa, suku sangihe dan talaud dan suku bolaang mongondow. Ketiga suku/etnis besar tersebut memiliki sub etnis yang memiliki bahasa dan tradisi yang berbeda-beda. Tak heran Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa bahasa daerah seperti Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan dan Bantik (dari Suku Minahasa), Sangie Besar, Siau, Talaud (dari Sangihe dan Talaud) dan Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang (dari Bolaang Mongondow)
Propinsi yang terkenal akan semboyan torang samua basudara (kita semua bersaudara) hidup secara rukun dan berdampingan beberapa golongan agama seperti Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Namun dari keaneka ragaman tersebut bahasa Indonesia masih menjadi bahasa pemersatu dari berbagai suku dan golongan.

Berikut ini beberapa Kebudayaan di Sulawesi Utara

  • Budaya mapalus. Mapalus merupakan sebuah tradisi budaya suku Minahasa dimana dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong. Budaya mapalus mengandung arti yang sangat mendasar. Mapalus juga dikenal sebagai local Spirit and local wisdom masyarakat di Minahasa
  • Perayaan tulude. Perayaan tulude atau kunci taong (kunci tahun) dilaksanakan pada setiap akhir bulan januari dan diisi dengan upacara adat yang bersifat keagamaan dimana ungkapan puji dan syukur terhadap sang pencipta oleh karena berkat dan rahmat yang telah diterima pada tahun yang telah berlalu sambil memohon berkat serta pengampunan dosa sebagai bekal hidup pada tahun yang baru
  • Festival figura. Figura merupakan seni dan budaya yang diadopsi dari kesenian yunani klasik. Seni ini lebih dekat dengan seni pantomim atau seni menirukan laku atau watak dari seseorang tokoh yang dikenal atau diciptakan. Figura merupakan kesenian yang dapat menghadirkan dramaturgi pendek terhadap sosok atau perilaku tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam mengisi tradisi baik buruknya sosok dan watak seorang manusia. Oleh pemerintah kota Manado festival figura diselenggarakan dalam rangka pesta kunci taong layaknya perayaan tulude yang dilaksanakan oleh masyarakat sangihe
  • Toa Pe Kong atau Cap go meh. Seperti didaerah lainnya, perayaan/upacara ini juga rutin dilaksanakan di Sulawesi Utara apa terlebih di Kota Manado. Upacara ini dimeriahkan dengan atraksi dari Ince Pia yakni seorang yang memotong-motong badan dan mengiris lidah dengan pedang yang tajam serta menusuk pipi dengan jarum besar yang tajam akan tetapi si Ince Pia tidak terluka ketika
  • Pengucapan syukur. Pengucapan syukur merupakan tradisi masyarakat Minahasa yang mengucap syukur atas segala berkat yang telah Tuhan berikan. Biasanya pengucapan syukur dilaksanakan setelah panen dan dikaitkan dengan acara keagamaan untuk mensyukuri berkat Tuhan yang dirasakan terlebih panen yang dinikmati. Acara pengucapan syukur ini dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat suku Minahasa pada hari Minggu umumnya antara bulan Juni hingga Agustus. Saat pengucapan syukur hampir setiap keluarga menyediakan makanan untuk para tamu yang akan datang berkunjung apa terlebih makanan khas seperti nasi jaha dan dodol.
  • Festival Pinawetengan. Festival yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 7 Juli, diawali dengan melakukan upacara adat di batu pinawetengan kemudian dilanjutkan dengan menggelar pertunjukan seni dan budaya Sulawesi Utara di Institut Seni dan Budaya Sulawesi Utara.
Selain itu, Sulawesi Utara memiliki banyak kesenian yang terus dilestarikan hingga saat ini. Itulah beberapa Kebudayaan di Sulawesi Utara yang hingga kini masih rutin dilaksanakan dan dilestarikan oleh masyarakat di Sulawesi Utara.

sumber : http://www.seputarsulut.com/kebudayaan-di-sulawesi-utara/

Kebudayaan Masyarakat Gorontalo


Kebudayaan masyarakat gorontalo


Gambar

Kebudayaan atau adat istiadat,agama,pakaian,dan norma – norma di gorontalo .. tentang agama,masyarakat Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (99 %). Islam masuk ke daerah gorontalo sekitar abad ke-16. Ada kemungkinan Islam masuk ke Gorontalo sekitar tahun 1400 Masehi (abad XV), jauh sebelum wali songo di Pulau Jawa, yaitu ditandai dengan adanya makam seorang wali yang bernama ‘Ju Panggola’ di Kelurahan Dembe I, Kota Barat, tepatnya di wilayah perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Pada waktu dulu di wilayah Gorontalo terdapat pemerintahan kerajaan yang bernapaskan Islam. Raja Kerajaan Gorontalo yang memeluk agama Islam adalah Sultan Amai (1550—1585), yang kemudiannya namanya diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama Islam di Provinsi Gorontalo, STAIN Sultan Amai Gorontalo, yang kelak diharapkan menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) di Gorontalo.
Tentang seni dan budaya, Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat.. Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.
Sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko, Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung). Dan Alat musik tradisional yang dikenal di daerah Gorontalo adalah Polopalo, Bambu, dan Gambus (berasal dari Arab)..
Warna Masyarakat Gorontalo
Dalam adat-istiadat Gorontalo, setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu. Karena itu, dalam upacara pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan empat warna utama, yaitu merah, hijau, kuning emas, dan ungu. Warna merah dalam masyarakat adat Gorontalo bermakna ‘ keberanian dan tanggung jawab; hijau bermakna ‘kesuburan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan’; kuning emas bermakna ‘kemuliaan, kesetian, kebesaran, dan kejujuran’; sedangkan warna ungu bermakna ‘keanggunanan dan kewibawaan’.

Makanan Khas Manado


Makanan Khas Manado


Harus  diakui, Manado punya segudang makanan yang luar biasa!!! Beberapa hari saja di Manado, anda akan merasakan berat badan yang bertambah,,,heheheh. Makanan di manado sangat di pengaruh dari makanan khas masyarakat Minahasa, sehingga orang menyebutnya Makanan khas Minahasa.  Makanan – makanan di Manado akan menjadi Surga bagi lidah anda…Mari makan
Pertama yang harus dibahas adalah Dabu-Dabu. bagi pecinta sambal… Dabu-Dabu layak diberi predikat “Harus dicoba”.  rasanya unik, pedas, ada sedikit asemnya juga…. enak deh pokoknya!!

Coba lihat warnanya yang cantik ini… Siapa yang tak tergoda mencicipinya?
Dabu-Dabu ini merupakan sambal yang dibuat dari bahan bahan mentah yang diiris kasar. Kalau sambal di jawa biasanya di haluskan (di uleg), Dabu-Dabu cukup dicampur saja jadi satu semua bahannya. Rasanya yang segar cocok sekali disandingkan dengan Ikan Bakar. Wuih mantab!!!!

Yang kedua, tentu saja Pisang goreng yang dimakan sama sambal, unik kan??. Apalagi jika  makan pisang gorengnya sore menjelang petang di teluk Manado, di sampingnya ada segelas Es Kelapa Muda dengan gula merah. Oh…..top margo Top…dech!!!

Apalagi Makanan yang satu ini ” Ikan Woku Belanga “
Manado yang terletak di tepi laut punya hidangan
khas yang berbahan ikan, tidak heran kalo makanan
yang satu ini menjadi favorit “Ikan Woku Belanga”
yang rasanya nendang banget …..
Masakan manado emang selalu menggugah selera, pedes dan segar, yuk dicobaiiin….


Satu lagi yang unik, “Nasi Kuning bungkus janur”
Coba perhatikan cara membungkusnya. Lucu kan??
Isi Nasi Kuning terdiri dari telur dan irisan daging sapi tipis tipis, disuwir suwir….
Nasi Kuning khas manado sedikit beda dengan Nasi Kuning yang ada di Jawa, terlebih dari segi rasa kaya akan bumbu.
Sebenarnya masih banyak makanan khas manado yang lezat, unik dan menarik.
Buktikan aja dech sendiri dengan segera berkunjung ke Kota Manado, dijamin lidah anda akan ketagihan.



sumber : http://manadonyaman.wordpress.com/pariwisata/wisata-kuliner/makanan-khas-minahasa-sario/